Forum ITB84

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

THE FINAL JUDGEMENT

You are cordially invited to the opening of

"THE FINAL JUDGEMENT" by RONALD MANULLANG
( Complete series exhibition and book launching)
and
"HOLOCAUST"
a group painting exhibition of AGUS SUMIANTARA I ENDIRA FJ I HAMDAN OMAR I MUHAMMAD ZICO ALBAIQUNI I REGGIE AQUARA I YOGIE AHMAD GINANJAR

Curated by RIFKY EFENDI

Officiated by Mr. SYAKIEB SUNGKAR
Hosted by Mr. Djaja Mulia
Ms. Rachel Ibrahim

Saturday, March 6 @ 4 pm
Venue : umahseni @ Menteng Art Space
Jl. Suwiryo No. 11, Menteng
Central Jakarta
T: 021 3920452

Looking forward to seeing you all

Regards,
Leo Silitonga (AR84) & Helen Koeswoyo

Pertemuan di pembukaan exhibition di suatu galeri
Pada tahun 2006 saya mengunjungi sebuah pameran di salah satu galeri di Yogyakarta, saat itulah pertama kali saya mellihat karya Ronald Manullang. Sebuah karya realis bergaya modern berukuran relatif kecil dibandingkan karya-karya lain yang dipamerkan, menggambarkan seorang lelaki memegang gendang dengan posisi miring dimana kakinya mengayuh kereta yang ditunggangi oleh figur perempuan barat apropriasi karya Vermeer. Karya tersebut seolah-olah tenggelam diantara karya-karya seniman kontemporer lainnya yang berukuran besar dengan image-image yang menantang. Memang, masa itu ukuran menjadi salah satu cara untuk menarik perhatian kolektor kontemporer.
Pertemuan dengan Ronald dalam sebuah pameran di salah satu galeri di kawasan Jakarta Barat merupakan suatu titik dimana saya ingin mengenal lebih jauh lagi karya-karya seniman tersebut. Saat itu Ronald mulai bercerita tentang konsep karya seri ‘Penghakiman’ (Judgement Series) yang dieksekusi diatas bidang kanvas besar. Saya sangat tertarik dengan konsep karya tersebut, hingga pada pertemuan berikutnya saya berkesempatan untuk melihat karya aslinya.

Kekaguman akan proses berkarya
Dalam Judgement series, Ronald memiliki kriteria khusus yang tidak mudah untuk modelnya. Sang model harus dalam keadaan hamil besar—bentuk perut yang bagus menurut pandangannya, postur tubuh yang mirip orang Eropa. Setelah itu, sang model harus bersedia untuk difoto kembali dalam posisi menggendong atau menyusui setelah melahikan anak. Ronald berpendapat bahwa detail bentuk buah dada seorang wanita yang habis melahirkan dan sedang menyusui berbeda dengan wanita biasa. Karena itulah, proses pencarian model dalam Judgement series ini menjadi sungguh menarik. Ronald dan Ellen, istrinya, berkeliling mencari sosok perempuan hamil yang akan dijadikan model untuk ‘dicangkokkan’ sebagai ‘tubuh’ Hitler dalam karyanya. Pada saat menemukan model yang dirasa cocok secara gestur, seringkali muncul reaksi penolakan yang disertai dengan sikap tidak bersahabat atas tawaran mereka untuk menjadi model dan bersedia telanjang. Meski dirasa sulit, namun kesabaran dan ketekunan Ronald dan Ellen akhirnya memberikan hasil yang baik.

Proses pemotretan dilakukan sendiri, di dalam ruangan yang dirubah menjadi studio. Ronald dan Ellen mengarahkan pose perempuan yang akan dipotret. Kecermatan Ronald akan pose model yang akan difoto seringkali membuat lamanya proses pemotretan tersebut, karena harus dilakukan secara berulang-ulang sampai memperoleh image yang sesuai dengan tuntutan konsep visual yang diinginkan. Selain itu, kondisi wanita hamil yang mudah lelah dan emosi, juga menambah lamanya proses pemotretan.

Selanjutnya Ronald mendesain dengan menggunakan program photoshop, menggabungkan hasil foto yang didapat, dengan wajah Hitler yang sesuai dengan ekspresi dan gestur yang diinginkan. Ada tiga pose dengan gestur yang sering ia buat, hamil, menggendong anak, dan menyusui. Kesulitan sering dihadapi dalam menggabungkan ekspresi dan gestur yang ada, karena Ronald berusaha semaksimal mungkin untuk mandapatkan image yang se-realistis mungkin.

Sebelum memindahkan sketsa digital ke dalam kanvas, Ronald melakukan berbagai persiapan dengan sangat cermat. Kanvas dipilih dengan teliti, proses gesso dilakukan berkali-kali sehingga sapuan dengan cat— berkualitas diatas kanvas membuahkan hasil yang sangat optimal. Menurut Ronald timpaan-timpaan cat atau pengulangan-pengulangan akan membuat permukaan lukisan menjadi tidak rata. Oleh sebab itu untuk memperoleh hasil yang ‘fine’ pada hasil akhir, sapuan kuas diatas kanvas hanya dilakukan dengan sekali jalan (one sitting).

Sebagai seorang pemikir yang kaya akan gagasan, Ronald menjadikan komputer selayaknya gudang penyimpanan ide. Prinsip yang sangat kuat membuat ia merasa harus melakukan semua proses melukis dengan tangannya sendiri— tanpa bantuan orang lain, hingga banyak dari ide-idenya belum sempat dieksekusi. Ronald cenderung mengerjakan karya-karya ber-seri dengan jumlah yang terbatas. Legend to Legend Series (Marilyn Monroe series, 14 karya) dan The Final Judgement Series (Hitler, 10 karya) adalah sebagian dari seri paling lengkap yang pernah ia buat. Beberapa kali Ronald diminta untuk menggunakan artisan untuk mempercepat pengeksekusian karyanya. Alasannya: agar ide-ide yang ada dapat direalisasikan atau dieksekusi segera, namun Ronald menolak dengan tegas. Sebagai seorang seniman, ia sungguh menikmati proses keseniannya diatas kanvas.

Menjadi polemik
Teknik dan objek dari karya Ronald Manullang beberapa kali menuai protes dan reaksi. Karya self potrait yang dipamerkan di Galeri Nasional mengundang opini tertentu dari pengamat seni. Banyak dari mereka yang berpendapat dan menduga bahwa karya tersebut adalah karya cetak atau digital print.,Kalaupun ada unsur charcoal, menurut mereka basisnya adalah digital print. Mungkin karena teknik realis yang sedemikian tinggi, sehingga karya tersebut tidak terkesan sebagai karya buatan tangan (hand made), melainkan sebagai hasil karya yang hanya melibatkan unsur-unsur teknologi saja. Untuk memberikan penjelasan terhadap keraguan atas pengamatan indrawi tersebut, Ronald harus membuktikan dengan foto yang memperlihatkan proses pembuatan karya atau ‘work on progress’

Salah satu karya Ronald dalam Judgement series berupa Mao Tze Dong yang sedang hamil menuai banyak protes dari beberapa kolektor, saat dipresentasikan oleh suatu balai lelang di Singapura. Wajah Mao dengan tubuh perempuan hamil seperti gaya Demi Moore yang pernah menjadi cover majalah Vanity Fair memicu penolakan dari kalangan tertentu dan mendulang kontroversi. Karena, sosok Mao masih dianggap sebagai seorang yang berjasa dalam memajukan bangsanya. Desakan dan protes dari para kolektor yang menolak karya tersebut mengakibatkan balai lelang itu terpaksa harus menarik-balik (withdraw) karya Ronald dari lelang.

Dukungan berkesenian

Pribadi seperti Bapak Deddy Kusuma, Ibu Rina Ciputra, Bapak Syakieb Sungkar sangat berarti dalam karier Ronald Manullang berkesenian. Support yang sangat luar biasa didapat dari mereka sejak Ronald memenangkan Indofood Art Award. Hingga akhirnya Ronald mulai memutuskan untuk meninggalkan profesi di advertising agency dan memilih untuk kembali berkesenian secara total.

Kenapa Hitler series
Saya sangat mengagumi karya Judgement series, namun sangat disayangkan bahwa seri tersebut tidak pernah dipamerkan secara bersamaan dan ditulis dengan lengkap bagaimana konsep dibalik karya tersebut. Sehingga, seringkali mengakibatkan persepsi yang salah akan karya itu. Pesan yang ingin disampaikan oleh sang seniman tidak pernah secara utuh tersampaikan.

Ketertarikan terhadap pengetahuan sejarah yang dia peroleh melalui buku dan film, menggugah pikirannya untuk menghakimi beberapa tokoh yang dianggap sudah melakukan kejahatan hingga mengakibatkan terbunuhnya jutaan orang. Tokoh-tokoh yang muncul dalam seri penghakiman ini diantaranya adalah Hitler, Mao Tze Dong dan Hirohito.

Karena itulah saya mengajak Ronald untuk memamerkan secara utuh karya Judgement series-nya dengan konsep pemikiran yang dituliskan kembali oleh kurator. Walaupun harus merunut kembali keberadaan dan meminjam sebagian besar karya-karya yang sudah dimiliki kolektor. Seri Hitler menjadi penting untuk dipamerkan dan dibukukan, karena bagi saya seorang Hitler lebih layak untuk memperoleh hukuman semacam itu— melalui karya seni. Sehingga sejarah seni pun akhirnya memilliki lagi arsip artistik mengenai sang diktator.

Pada bulan Maret tahun 2009 saya berkunjung ke Yad Vashem Museum di Jerusalem (Israel), dimana sedang diselenggarakan pameran Holocaust. Dalam pameran itu digambarkan secara gamblang, penderitaan bangsa Yahudi selama masa kekejaman Hitler. Dimulai dari propaganda Hitler untuk membangkitkan kebencian terhadap bangsa keturunan Yahudi yang ada di Jerman, alat-alat yang digunakan untuk mengukur ke “Aria”-an seseorang, sampai alat untuk melakukan pembantaian. Foto-foto pembunuhan massal terpampang dalam ukuran yang besar. Bahkan, di halaman komplek museum tersebut ada sebuah lori asli yang digunakan untuk mengangkut orang-orang Yahudi menuju tempat pembunuhan.

Setiap kali saya mengingat kunjungan ke museum tersebut saya masih terus merasakan kekejaman dari seorang pemimpin yang dengan kekuasaannya menggerakkan suatu bangsa untuk membenci bangsa lain.

Propaganda dengan selebaran indoktrinasi yang mengatakan bahwa Yahudi adalah bangsa yang membunuh Tuhan-nya umat Kristiani, membuat rezim Hitler berhasil menyuburkan kebencian di tengah masyarakat Jerman. Selain itu, aspek status sosial juga dijadikan ‘pemicu’ dalam persoalan rasial— rekayasa NSDAP (partai politik Hitler). Mengingat pada saat itu bangsa keturunan Yahudi di Jerman banyak menduduki posisi-posisi terhormat baik politik maupun perekonomian. Faktanya, propaganda sesat tersebut sangat berhasil, hingga melekat di masyarakat Jerman pada jaman itu. Sampai-sampai beberapa dokumentasi baik foto mau pun film menunjukkan bahwa masyarakat awam setempat cenderung melihat peristiwa pembantaian terhadap keturunan Yahudi sebagai sikap yang layak dan sepantasnya. Masyarakat Jerman baik orang dewasa maupun anak-anak, sudah sangat tidak perduli apakah orang yang sedang dibunuh adalah salah satu guru mereka di sekolah, tetangga yang pernah menolong mereka ataupun orang yang pernah berhubungan dengan mereka. Ibu-ibu hamil dan anak-anak kecil tanpa terkecuali digiring seperti penjahat dengan tangan terangkat, meski tidak tau sama sekali kesalahan apa yang telah mereka lakukan— selain memiliki darah Yahudi. Mereka dengan pasrah siap untuk menerima perlakuan yang tidak adil, hingga kehilangan nyawa.

Ada yang berpendapat bahwa propaganda tersebut merupakan salah satu cara untuk menjarah harta warga keturunan Yahudi di tanah Jerman. Dengan tujuan untuk mendapatkan pembiayaan perang yang digunakan untuk memuaskan hasrat Hitler untuk menguasai bumi Eropa.

Apa Relevansinya dengan Indonesia
Pemandangan ini mengingatkan saya pada peristiwa Mei 1998 di Jakarta, dimana terjadi penjarahan pada usaha yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa. Entah doktrin dari mana yang membuat kebencian luar biasa terhadap masyarakat keturunan Tionghoa. Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak pun dengan suka cita menjarah segala bentuk usaha yang dimiliki oleh bangsa keturunan Tionghoa, bahkan beberapa orang bertindak lebih jauh, memperkosa dan membunuh. Seolah-olah perbuatan itu sudah layak dan sepantasnya.

Memang skalanya tidak sebesar peristiwa Holocaust, namun dirasakan spirit dari Holocaust itu masih ada dimana-mana, spirit menggunakan suku agama dan ras serta status sosial untuk mengumbar kebencian dan iri hati kepada sesamanya. Kebencian yang begitu luar biasa sehingga banyak tindakan yang tidak manusiawi menjadi suatu hal yang lazim.

Karya Final Judgement Series ini mengingatkan kita akan spirit Holocaust yang masih ada dimana-mana. Apakah harus seperti syair yang dinyanyikan oleh John Lenon dalam lagunya Imagine? Sebaiknya tidak ada suku bangsa, tidak ada ras dan agama? Suatu hal yang sangat tidak mungkin. Perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa bahkan akan lebih banyak. Biarlah kita dapat lebih bertoleransi terhadap perbedaan perbedaan yang ada, baik itu suku, ras, agama, maupun status sosial. Biarlah melalui pameran ini kita lebih diingatkan mengenai pentingnya rasa toleransi.

Pameran Final Judgement Series ini juga dibarengi dengan pameran bersama Holocaust sebagai latar belakang peristiwa dalam pameran Final Judgement tersebut. Mereka berusaha merespon peristiwa Holocaust dengan referensi katalog pameran Holocaust dari Yad Vashem Museum yang saya kirimkan kepada setiap seniman.

Kami dari umahseni dengan bangga mempersembahkan pameran seri lengkap The Final Judgement dari Ronald Manullang dan pameran bersama Holocaust.

Selamat mengapresiasi


Powered by ITB84@Facebook Comments
 

Silahkan klik link Yahoo di atas untuk bergabung menjadi anggota milis ITB84

Who's Online

Now 4 guests online

ITB 84 Event Calendar

<<  September 2010  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    1  2  3  4  5
  6  7  8  9101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

JoomlaWatch Stats 1.2.8b_10-dev by Matej Koval